Si Tungtung Pelempar Ulung

Tutung adalah seekor monyet yang mulai beranjak remaja, walaupun begitu, tingkah lakunya tak ada ubahnya dengan anak-anak, justru si tutung semakin nakal. Banyak anak-anak monyet yang menjadi korban kenakalannya. Ia selalu menimpuk teman-temannya dengan buah busuk dari atas pohon. Salah satu korbannya adalah ladu si landak, pelindung tubuhnya yang berupa duri tertancap pepaya dan buah-buahan lain, hal itu membuatnya sulit bergerak. Untunglah ada kijang dan jerapah yang mau membantu landak untuk melepas buah-buah yang menancap di tubuhnya.
Semua penghuni hutan jengkel dengan tutung, akhirnya mereka sepakat untuk melaporkan ulah tutung kepada ibunya. ”Hari ini ulah tutung sangat keterlaluan” begitu kata ladu kepada ibu tutung. ”apakah kau tidak bisa menasihati anakmu?” tanya ibu jerapah. ”Maafkan anakku,” kata ibu tutung. ”Dia memang nakal dan manja, sudah berulangkali dinasehati dan dihukum, tetapi tidak pernah jera juga.” Ibu tutung menjawab dengan putus asa. ”Kalau dalam satu minggu ini dia tidak bisa mengubah sikapnya, kami akan melaporkannya pada singa si penguasa rimba, supaya ia mendapat hukuman berat,” Gajah menyahut dengan geram. ”Baiklah, dalam waktu dekat ini saya akan berusaha untuk merubah tabiatnya yang jelek itu.” Ibu tutung mencoba meredam amarah penghuni hutan.
Hari-hari berikutnya, berkat usaha keras bu tutung, akhirnya tutung sudah tidak senakal dulu lagi meski belum bisa dikatakan penurut. Suatu hari datanglah dua orang pemburu. Seisi hutan menjadi panik. Senapan pemburu berdentum kemana-mana. Semua binatang bersembunyi karena takut menjadi korban pemburu itu. Singa sebagai raja hutan merasa bertanggungjawab atas keselamatan seluruh penghuni hutan, akhirnya ia memutuskan untuk menghadapinya sendirian. Singa berkelahi dengan sengit. Ketika dia berhasil mengalahkan seorang pemburu, tutung yang bersembunyi di atas pohon melihat teman si pemburu membidik singa dengan senjatanya, tutung yang bersembunyi diatas pohon kelapa segera melemparkan buah kelapa yang ada di dekatnya, dan.. Pluk .. !!! Lemparan tutung tepat mengenai teman si pemburu. Pemburu itu terhuyung-huyung karena pusing, akhirnya karena merasa lelah dan kalah, kedua pemburu itu segera menarik temannya dan berlari secepat mungkin keluar dari hutan. Setelah pemburu kabur, seisi hutan keluar dari persembunyianya dan mengucapkan terimakasih serta penghargaan kepada singa dan tutung. Tanpa keahlian tutung melempar, singa tidak akan selamat dan semua warga bisa celaka. Sekarang, mereka menganggap tutung sebagai pahlawan, tetapi tutung tidak menjadi sombong dan menjadi anak yang baik.