Si Kuncung dan Sayur Bayam

Si Kuncung sepagian ini ngomel. Yang sampahnya bau lah, yang si Menul tidak kunjung keluar dari kamar mandi lah. Yang airnya habis lah… Pokoknya semua diomeli.
“Kamu kenapa to, Cung?” tanya Simbok.
“Ndak papa!”
“Lha nek ndak papa kok mukanya mrengut terus!”
Bapak yang lagi masuk rumah juga menegur, “Ndak baek pagi-pagi uring-uringan itu, Cung.”
“Ah embuhlah!”

Kuncung menuju meja makan. “Mbok, makan, mbok.”
Tak berapa lama, Simbok keluar dari dapur sambil membawa cething nasi dari bambu dan setumpuk piring kaleng.
“Iya bentar. Ini lagi disiapkan.”

Simbok berjalan ke dapur, lalu kembali lagi dengan sepanci sayur dan sepiring tempe goreng garit kesukaan Bapak. Kuncung segera mengambil nasi banyak-banyak, tak lupa dicomotnya tempe goreng. Suapan pertama sukses bikin Kuncung marah-marah lagi.
“Mbok…! Sayurnya ndak ada rasanya! Kurang asin!”
“Ya kamu tambahin garem aja to, Cung,” sahut Simbok dari dapur.
“Ndak mau!”
Saking kesalnya Kuncung lari keluar rumah dan main bersama si Jabung, ayam jagonya.
Simbok hanya geleng-geleng kepala di dapur. ‘Masak gitu aja kok ya ndak mau,’ pikir Simbok. Diambilnya wadah garam, ditambahkannya sejumput garam ke dalam sayur bayam. Lalu Simbok kembali ke dapur.

Bapak keluar dari kamar. Didengarnya tadi Kuncung yang marah-marah karena sayur yang kurang asin. Bapak mendekat ke meja, dilihatnya wadah garam ada di samping piring makan Kuncung yang ditinggal.
“Apa ya mau si Kuncung nambah garam sendiri. Simbok ki kepiye…?” gumam Bapak.
Lalu diambilnya seujung sendok teh garam, dan dimasukkan ke dalam sayur bayam, dan dikembalikannya garam ke dapur. Simbok sudah keluar untuk menjemur pakaian.

Kuncung yang sudah capek bermain sama Jabung, kembali masuk ke rumah. Dilihatnya piring yang berisi nasi yang tadi belum dihabiskannya. Celingukan dia mencari Simbok. Ndak ada.
“Ugh! Simbok ini gimana sih?” sungut Kuncung.
Dia lantas ngeloyor ke dapur, diambilnya wadah garam lalu ditaburkannya sedikit ke dalam sayur bayam.
Sekarang Kuncung sudah siap menyantap makanannya. Tapi …
“Woaaahhhh… oasssssssssssiiiinnn!!!” teriaknya.

Bapak dan Ibu masuk dan melihat Kuncung yang kiyer-kiyer matanya karena keasinan. Ibu mencicipi sayur di piring Kuncung.

”Duh iya, asin banget. Padahal aku cuma nambahin sedikit,” kata Ibu.
”Lho, Ibu nambahin garam di piringku?” tanya Kuncung.
”Iya, lha kamu marah-marah katanya sayurnya kurang asin…”
”Ng… Bapak tadi juga nambahin sedikit, Bapak kira Ibu ndak sempat, dan kamu ngambek…” kata Bapak.

Kuncung terdiam. Dia merasa bersalah karena terus-terusan marah-marah, hasilnya malah dia sendiri yang terkena batunya.

”Maafkan Kuncung ya Bu, sudah marah-marah, padahal Ibu sudah capek-capek nyiapin makan..”
”Ya sudah, ambil lagi aja. Besok-besok ndak usah marah-marah yang ndak perlu…”