Pipo Si Hiu

Pagi yang cerah, ombak bergantian bergulung menuju tepian laut menyentuh daratan. Sayang sekali, di dunia bawah laut, suasana sedang murung. Mama dan Papa Hiu sedang bersedih hati dan gundah gulana. Anak bungsu kesayangan mereka, Pipo si anak hiu sedang sakit. Kemarin Pipo bermain-main di terumbu karang dekat pantai, karena sedang asyik bermain, Pipo tidak menyadari ada jebakan nelayan yang dipasang di dekat terumbu karang. Akibatnya sirip Pipo terluka, untung saja Pipo ditolong oleh Dexa si gurita, sehingga dapat melepaskan diri dari jebakan nelayan dan kembali pulang ke rumah.

Pipo hanya duduk-duduk di kamarnya, sekali-kali dibalasnya sapaan dari teman-temannya, segerombol ikan sarden yang sedang asyik bermain ombak laut. Tak lama kemudian, ditutupnya korden di jendela kamarnya, lalu Pipo menjatuhkan diri di kasurnya yang empuk, meskipun matanya tidak mengantuk.

Sudah genap seminggu, Pipo hanya mondar mandir di kamarnya. Papa dan Mama Hiu sudah berkali-kali membujuknya untuk keluar rumah, tapi Pipo malu. Karena luka di siripnya, Pipo tak lagi bisa berenang dengan cekatan, padahal dahulu dia adalah salah satu ikan yang berenang paling cepat.

“Apa nanti kata teman-teman, ketika melihat aku berenang mirip nenek paus, pelan dan lamban,” batinnya sedih.

Berkali-kali pula ajakan di Dexa gurita, maupun Tiko si cumi untuk duduk-duduk di terumbu karang dekat rumah ditolaknya.

Sore hari telah tiba, Mama Hiu sedang sibuk menyiapkan hidangan makan malam.

“Pipo… bangun nak, mandilah dulu, lalu kita makan malam sama-sama,” panggil mama Hiu dari ruang makan.

Pipo menggeliatkan badannya. Ah tadi sepanjang hari, Pipo tidak sedetik pun memejamkan mata. Hanya saja, badannya terasa agak letih dan lesu, mungkin benar kata Papa, karena Pipo kurang bergerak. Pipo membuka pintu kamarnya, Mama dan Papa sedang asyik mengobrol.

“Iya, kasihan ya mamanya Dexa, padahal uang itu akan digunakan untuk membayar uang kuliah kakak Dexa di laut seberang.”

“Ya, bagaimana lagi, namanya juga musibah Ma.” Tambah Papa.

“Ada apa sih Pa?” tanya Pipo penasaran, sambil mencomot ganggang goreng di meja makan.

“Makanya kamu jangan di kamar terus, Mama Dexa sedang mengalami musibah, dompetnya hilang, waktu perjalanan dari terumbu karang tepi kota. Semua sudah membantu mencari tapi tidak ditemukan.”

Pipo terdiam, teringat kemarin saat dia terkena jebakan nelayan. Dexa menolongnya dengan sekuat tenaga, agar mereka segera bebas dan kembali kerumah.

Sehabis makan, Pipo menyelinap ke luar rumah. Suasana sudah gelap, beberapa rumah sudah berangsur sepi. Pipo berenang pelan ke ujung deretan rumah – rumah terumbu karang tempat tinggalnya. Di sebuah rumah mungil, Pipo berhenti, lalu mengetuk pelan pintu rumah itu.

“Ul… Ulle…. ini aku Pipo,” suara berderit dari daun pintu yang terbuka menyambut panggilan Pipo, dan menyembullah ubur-ubur cahaya dari balik pintu rumah.

“Eh Pipo… kamu sudah sembuh ya?” sahut Ulle gembira.

“Ada apa malam-malam kemari?”

Pipo berbisik di telinga Ulle, lalu Ulle mengangguk-ngangguk tanda mengerti. Tak berapa lama mereka berdua berenang beriringan ke suatu tempat.

“Eh… enak juga ya, kamu berenangnya pelan, jadi aku tidak melulu ketinggalan.” Seloroh Ulle.

Pipo tertawa, tawa pertama sejak kecelakaan itu terjadi. Ternyata, ada juga yang merasa diuntungkan karena dia bisa berenang dengan pelan.

Ternyata Pipo dan Ulle menelusuri rute perjalanan mama Dexa, di sepanjang terumbu karang tepi kota. Berdua mereka dengan tekun menyisir tepian terumbu, dengan dibantu cahaya dari Ulle si ubur-ubur, Pipo memeriksa setiap sudut yang ada di sepanjang terumbu. Karena siripnya belum pulih benar, Pipo harus berenang pelan-pelan, justru itulah yang memudahkan Pipo untuk memeriksa dengan teliti setiap sudut terumbu. Ulle melenggang dengan genit di depan Pipo. Sambil sekali-kali bergaya ala penari kabaret, membuat Pipo tertawa terbahak-bahak.

“Ulle … Lihat!” Pipo berteriak kegirangan demi melihat sebuah dompet di pojok terumbu, di bawah ganggang yang sedang tertidur dengan pulas.

Pelan-pelan Pipo mengambil dompet itu, memeriksa isinya lalu mereka berdua berenang pulang dengan hati riang gembira.

“Pipo… terimakasih ya nak.” Mama Dexa memeluk Pipo dengan mata berkaca-kaca. Malam itu rumah Pipo ramai sekali. Semua warga berkumpul, Dexa dengan riang berkali-kali membanggakan Pipo dan Ulle yang telah menolong mamanya.

Pipo gembira, benar kata Papa, ketika ada keadaan yang tidak diinginkan, jangan terlalu banyak mengeluh. Karena dalam keadaan apapun, ketika kita mau berusaha, kita bisa bermanfaat bagi sesama.